My Chemical Romance dan Tujuan Hidupku

Gw udah lama pengen nulis ini tapi entah kenapa kesibukan dan menari mood buat nulis diary macam ini jadi tertunda dan males-malesan aja. Hari ini gw ada waktu luang dari jam 13 sampai pukul 16.30 lumayan lah untuk kontemplasi diri dan memikirkan hidup gw selama ini.

Beberapa hari ini gw rasa empty dan numb, lalu tetek gw mengecil. Baru ketauan gw gangguan hormon lagi. Hah dasar penyakit lama. Tapi yaudah lah gw sekarang dapat terapi hormon semoga aja pendarahan ini berhenti dan gw bisa tidur nyaman lagi.

Oh iya gw mau cerita tentang pengalaman nonton konser MCR yekan. Jadi buat beberapa orang yang udah kenal sama gw dari lama banget pasti tau dah tujuan hidup gw

Hayo tebak

Tujuan hidup gw enggak muluk-muluk

Tujuan hidup gw bukan buat masuk surga, tidak juga untuk memberangkatkan orang tua ke tanah suci, gw juga enggak punya tujuan buat membahagiakan keluarga termasuk suami, adik-adik dan orangtua. Gimana kita mau membahagiakan orangtua kalau kitanya gak bahagia, yekan?

Tujuan hidup gw adalah

jengjengjeng

gak ngagetin juga sih too obvious

Nonton konser My Chemical Romance. Ketemu langsung sama idola gw sejak remaja: Gerard Way bisa sing along dan lihat seksinya rambut Ray Toro, cutenya Mikey Way and gemeshgemesh Frank Iero

Daaaaaan tujuan hidup gw tercapai pada tanggal 21–22 Mei 2022 di acara Kuntraise! Bonn,Jerman.

Yak saudara-saudara, sudah tiga tahun saya jadi penduduk Jerman dan ternyata takdir menentukan gw nonton MCR di Jerman bukan di Indonesia atau di negaranya pak Gerard, USA.

Lihat betapa bahagianya perempuan ini

Gw nonton MCR dua hari berturut-turut. VIP dan front stage, duit gw abis 400 Euroan lah smeua tabungan buat beli tiket pulang ke Indonesia gw pakai buat nonton MCR dari dekat, dan puaaaaasss!!!! Gw enggak menyesali setiap keringat dan rasa lelah bekerja yang gw lakukan demi beli tiket konser MCR. Semuanya terbayar. Gw enggak kecewa atau merasa rugi keluar duit mahal karena ini MCR. MCR adalah tujuan hidup saya.

Lalu kalau tujuan hidup udah tercapai terus apa dong?

Mungkin itu yang terbesit dalam pikiran seorang ambisius-macam gw dan teman-teman gw. Tapi berdasarkan pengalaman gw mencapai tujuan hidup gw ini. Ternyata yang gw rasakan adalah sebuah kebahagiaan hakiki.

KEBAHAGIAAN HAKIKI

KEBAHAGIAN SAUDARA-SAUDARA

Katanya otak manusia diciptakan untuk tidak berbahagia. Tapi ketika konser selesai dan orang-orang berbondong-bondong untuk pulang ke rumah. Gw merasakan kedamaian, sebuah penerimaan terhadap diri gw sendiri.

Dengan menonton MCR, dan akhirnya mencapai tujuan hidup. Gw merasa bersyukur dan berterima kasih kepada diri gw sendiri. Gw telah bertahan, berusaha sejauh ini, gw sudah melalui banyak hal dan gw enggak menyerah. Segala hal yang gw lakukan di masa lalu, gw tidak menyesali segala keputusan yang pernah gw ambil dan lakukan. Gw sadar gw enggak sempurna dan gw melakukan kesalahan dan menyakiti orang lain, tapi gw belajar untuk tidak mengulanginya lagi. Gw salah dan kalah tapi gw tidak berhenti. Gw gagal dan frustasi tapi gw coba lagi. Gw berterima kasih kepada diri sendiri sudah berjuang sejauh ini.

Gw mengalami proses itu, penerimaan, memaafkan dan tentram.

Dulu gw pikir kalau tujuan hidup gw udah tercapai maka gw mending mati aja, yha buat apa hidup.

Tapi ternyata setelah gw BENAR-BENAR MENGALAMI tercapainya tujuan hidup gw, gw merasa tentram. Utuh. Mungkin ini yang Buddhism bilang tentang Nirvana. Gw menerima diri sendiri, sekitar dan berusaha hidup sebaik-baiknya.

Gw merasakan bahwa hidup adalah anugerah bukan lagi penderitaan.

Sedih, amarah dan gagal wajar bagian dari kehidupan tapi gw tetap bersyukur gw bisa mengalami semua emosi. Karena semua emosi adalah bagian dari gw merasakan hidup. Gw sadar gw ada dan menjadi ada.

Gw enggak tahu apakah ini gara-gra gw nonton MCR atau gw menuju 30 tahun. Rasa insecure soal tubuh dan karier masih ada, tapi gw berusaha menerima semua prosesnya.

Menonton My Chemical Romance adalah pengalaman dan pelajaran buat hidup gw. Bahwa gw enggak harus ikutin tujuan hidup orang mainstream, gw enggak perlu jadi orang lain untuk diterima di lingkungan, gw bisa jadi diri sendiri dan gw enggak perlu komformitas. Dan yang terpenting, gw berdamai dengan diri sendiri setelah diagnosis depresi tujuh tahun yang lalu.

--

--

Using Medium as Toilet basicly what I wrote here are shit(s)

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store